Jogja Serambi Madinah

Bregodo Ganggeng Samudro, jaman kerajaan islam Demak Bintoro di lahirkan kembali di Jogjakarta

Bregodo Ganggeng Samudro, jaman kerajaan islam Demak Bintoro di lahirkan kembalidi Jogjakarta


Prajurit Penjaga moral masyarakat yang sudah ada sejak jaman kerajaan Demak Bintoro jaman raden patah, yaitu bregodo ganggeng samudro di lahirkan kembali pada sabtu malam ahad 20 maret 2010 , di resmikan oleh Adiknya Sri Sultan Hamengkubuwono yaitu kanjeng Pangeran Drs.Yudaningrat,MM.

Prajurit dengan seragam hijau ini bertugas menjaga masyarakat supaya selalu memegang teguh tatanan keyakinan dan amal sesuai yang di ajarkan oleh sayid yunus pada masa jaman kerajaan islam di tanah jawa demak bintoro. semoga kelahiran kembali di Sleman jogjakarta ini bisa menghidupkan kembali semangat keislaman di negeri Jogjakarta sebagai pewaris kerajaan islam di tanah jawa.

Acara yang di gelar di Sanggrahan Maguwoharjo Depok Sleman jogjakarta ini di hadiri ribuan jamaah pengajian dari beberapa pesantren dan jamaah masjid dari 5 kabupaten di jogjakarta dan sekitarnya. terlihat puluhan bis memenuhi jalan desa maguwoharjo. Acara di mulai dengan amaliyah sholawat, pengajian, launching prahurit bregodo dan di lanjutkan pagelaran budaya wayang kulit semalam suntuk, menggugah kembali ajaran walisngo kepada masyakarat jogjakarta.

Semoga dengan di launchingnya prajurit bregodo ganggeng samudro ini bisa memenuhi harapan dari majelis buhorean kraton ngayogyakarta hadiningrat terhadap realisasi Ngayogyakarto Serambi Madinah, sebagaimana di sampaikan pengajian dari KH. Nurasalam yang mengupas kepemimpinan Rasulullah dengan Piagam Madinah bisa menyatukan masyarakat yang plural.

Lihat juga  Film di Koleksi Video JSM di Facebook

Tim JSM

jogja Serambi Madinah

March 20, 2010 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Sultan: Umat Muslim Hendaknya Teladani Nabi Muhammad

Sultan: Umat Muslim Hendaknya Teladani Nabi Muhammad

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan umat muslim hendaknya meneladani Nabi Muhammad SAW dalam seluruh perilakunya. “Perilaku yang patut diteladani adalah mulai dari akidah (keyakinan kepada Tuhan YME) dan akhlaknya, hingga berbagai amalannya dalam bidang ekonomi, sosial, politik, hukum, maupun pemerintahan,” tandas Sultan dalam sambutannya yang dibacakan Wakil Gubernur DIY Paku Alam IX pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Pemerintah Provinsi DIY, Kamis.

Gubernur DIY menyebutkan Nabi Muhammad SAW memiliki sifat sidiq, ketauhidan yang kokoh, kepribadian yang lemah lembut, pengasih, dan amanah dalam kehidupan sehari-hari, sehingga patut diteladani. Oleh karena itu, menurut Sultan, diharapkan jajaran pegawai negeri sipil (PNS) Pemprov DIY sebagai abdi negara dan abdi masyarakat, semestinya dapat memberi pelayanan yang baik kepada masyarakat sesuai perilaku yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW melalui sifat-sifat terpujinya itu.

Disebutkan pula, dalam memberi pelayanan kepada masyarakat, Nabi Muhammad SAW penuh toleransi, saling mendukung dan saling mengasihi. Maka, menurut gubernur, setiap muslim tidak boleh berpikir egois, tetapi hendaknya berpikir dalam kerangka bagi kepentingan umat manusia.

Suri tauladan yang tetap relevan hingga akhir zaman nanti yaitu Islam, karena melakukan transformasi sosial kemasyarakatan dari kondisi zaman kegelapan menjadi terang benderang. Menurut Sultan, reformasi sosial tersebut sarat dengan etika dan moral, serta memberi petunjuk mengenai tata cara berhubungan dengan sesama manusia maupun dengan pencipta-Nya.

Gubernur DIY menegaskan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak akan bermakna apa-apa selain hanya aktivitas ritual dan rutinitas belaka, jika kaum muslim tidak mau diatur dengan wahyu Allah yaitu Al Quran maupun Sunnah Rasul. Kelahiran Nabi Muhammad SAW, menurut dia mengandung makna. Sebab, Muhammad diangkat menjadi nabi dan rasul Allah dengan tugas menyampaikan wahyu Allah kepada umat manusia, agar bisa menjalankan apa yang telah diperintahkan Allah SWT.

Sementara itu, Kepala Kanwil Kementerian Agama DIY H Afnadi selaku ketua penitia peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW mengatakan kegiatan ini bertujuan memberi pembinaan mental dan agama kepada PNS serta masyarakat guna meneladani Rasulullah dalam menjalankan pengabdiannya. Melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, kata dia, diharapkan PNS bisa meningkatkan iman dan taqwanya kepada Allah SWT, sehingga dalam menjalankan roda pemerintahan bisa meningkatkan pula kreativitas dan kinerjanya menjadi lebih baik.

Pada kesempatan itu, Uztad Ahmad Jauhari, MSi dalam ceramahnya mengajak meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT, karena pada zaman sekarang maksiat sudah merajarela dan membuat umat terkadang bimbang dalam menjalankan syariat Islam.

Sumber : Republika

March 12, 2010 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Merunut sejarah menggagas masadepan Mataram : Napak Tilas Perjanjian Giyanti Bersama 4 Raja Jawa

Merunut sejarah menggagas masadepan Mataram :

Napak Tilas Perjanjian Giyanti

Bersama 4 Raja Jawa

APA sesungguhnya yang menjadi latar belakang diadakannya pertemuan empat raja Jawa, di Salatiga,  Di desa Giyanti (Janti) itulah awal dari runtuhnya kerajaan Mataram dan kemudian melahirkan kerajaan baru bernama Yogyakarta Hadiningrat.

Dalam bukun karya Mr Kanjeng Pangeran Haryo Soedarisman Purwokoesoemo terbitan Gadjah Mada University Press 1985, secara garis besar dituturkan tentang situasi politik, ekonomi, dan keamanan di tahun 1775.

Kerajaan Mataram Islam dengan raja Sunan Paku Buwono III dipusingkan oleh pemberontakan yang dipimpin kerabatnya sendiri, yakni Pangeran Mangkubumi, yang menolak persekutuan antara Mataram dengan VOC.

Perlawanan Pangeran Mangkubumi terhadap Paku Buwono III akhirnya dicarikan solusi dengan digelarnya pertemuan di Giyaanti. Proses panjang dialog antara kubu Paku Buwono III dan Pangeran Mangkubumi ditengahi oleh Gubernur Jenderal N Hartings akhirnya menghasilkan beberapa poin dalam perjanjian yang ditandatangani pada  17 Maret 1755

Poin yang sangat mendasar dari pertemuan itu, Pangeran Mangkubumi mendapat bagian setengah dari Kerajaan Mataram di sebelah barat Sungai Opak. Bagi yang sering atau pernah ke Yogyakarta atau Surakarta, kali Opak merupakan sungai kecil yang membelah kompleks Candi Prambanan,

Pangeran Mangkubumi berhak menjadi raja yang pusat pemerintahannya di Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ingalaga Ngabdurrahman Sayidin Panotogomo Kalifattullah. Hak menguasai wiayah Mataram sebelah barat, menurut perjanjian itu, sifatnya turun temurun hingga sekarang. Sedangkan Mataram sebelah timur sungai Opak tetap dikuasai Paku Buwono III dengan pusat pemerintahan di Surakarta.

Wilayah bagian barat sungai Opak yaang dikuasai Pangeran Mangkubumi merupakan cikal bakal berdirinya kerajaan Mataram oleh Danang Sutawijaya yang memisahkan diri dari kekuasaan Sultan Hadiwijaya di Pajang. Saat itu, Danang Sutawijaya atau Panembahan Senopati diberi hadiah hutan Mentaok dan kemudian atas kekuasaan Panembahan Senopati dibangunlah kerajaan Mataram.

Ternyata dalam perkembangan selanjutnya, politik adu domba Belanda sukses membuat dua kerajaan ini kembali terpecah. Dalam perjalanan sejarah, Pangeran Sambernyowo dari Surakarta kemudian mendirikan kadipaten sendiri yang otonom terpisah dari Kerajaan Surakarta. Wilayah kekuasaan Pangeran Sambernyowo kemudian kita kenal hingga sekarang dengan sebutan Mangkunegaran, karena pangeran ini berkuasa dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegoro.

Sementara itu, Pangeran Notokusumo dari Yogyakarta dalam perjalanan sejarah juga mendirikan daerah otonom yang terpisah dari Kasultanan Yogyakarta. Pangeran Notokusumo mendapat kekuasaan sebagian dari wilayah Yogyakarta dan mendirikan kadipaten otonom, yakni Kadipaten Pakualaman. Notokusumo bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Paku Alam.

Kedua pangeran itu secara turun temurun mewariskan kekuasaan ekonomi, sosial., politik dan keamanan masing-masing kepada anak keturunan mereka.

Jika keempat raja di empat kerajaan berdarah Mataram itu kemudian berkumpul menyamakan visi di era modern ini, tentu bukan bermaksud untuk menyatukan kekuatan untuk mendirikan negara baru. Sebab secara jelas, dan disebutkan dalam undang-undang, Kerajaan Yogyakarta, Pakualaman, Kasunanan Surakarta dan Mangkunegaran adalah bagian dari wilayah Negara Kesatuan Rebuplik Indonesia.

Pertemuan juga lebih didasari oleh keprihatinan perkembangan situasi masa kini. Bangsa Indonesia yang masih terpuruk pasca runtuhnya kekuasaan Soeharto, perkembangan ekonomi yang seolah jalan di tempat dan kehidupan rakyat yang tidak segera bangkit.

Rasa keprihatinan itu dirasakan benar oleh empat raja yang kini mewarisi budaya empat kerajaan pecahan dari Kerajaan Mataram itu, masing-masing Sutan Hamengku Buwono X, Sunan Paku Buwono XIII, KGPAA Paku Alam IX dan KGPAA Mangku Negoro IX.

Ternyata dari empat raja yang hendak dihadirkan panitia, hanya Sultan Hamengku Bowono X yang hadir, sedangkan yang lain, tidak bisa hadir dengan alasan yang berbeda-beda.

Tentu kita sebagai orang awam pun merasakan hal sama. Dalam bentuk yang berbeda, situasi Indonesia sekarang ini tidak jauh beda dengan situasi akhir kerajaan Mataram. Yang masih menguntungkan adalah, sekarang tidak ada penjajah Belanda, tetapi justru semangat penjajah itu ada dalam diri sebagian dari elite-elite kita. Mari kita hantarkan bangsa ini ke gerbang kemerdekaan lahir batin dan kesejahteraan yang merata.

Sumber : Kompas

March 12, 2010 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Mari Dukung Jogja Yang Bermoral “Sultan HB X Menyemai Bibit Malu Korupsi”

Mari Dukung Jogja Yang Bermoral

“Sultan HB X Menyemai Bibit Malu Korupsi”

Nilai-nilai kearifan lokal atau local wisdom dalam suku Jawa yang ditanamkan nenek moyang sejak lama dapat menjadi benteng dari keinginan memperkaya diri dengan cara korupsi. Sayangnya, nilai-nilai moral itu telah luntur dimakan zaman, atau dianggap tidak relevan lagi karena deraan ekonomi yang semakin membebani rakyat sehingga melakukan hal yang tidak seharusnya dianggap wajar dan bahkan jadi panutan. Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X mengatakan, sejak lama falsafah merasa malu jika moralitasnya tercela telah tumbuh subur di kalangan masyarakat Jawa. “Ada pepatah Jawa yang menyebut, “Kelangan nyawa ora apa-apa, kelangan bandha yo separoh apa-apa , kelangan harga diri artine kelangan sakabehe.” Kehilangan jiwa tidak apa-apa, kehilangan harta berati hilang separuh hidup, tetapi hilang harga diri berarti hilanglah segala-galanya, ” urai Raja Jawa itu dalam Sarasehan Kebangsaan Rekonsiliasi Sejarah kedua yang digelar di Kota Salatiga, Jawa Tengah.

Sarasehan ini dilaksanakan aliansi wartawan lintas media, Ekayastra Ummada Semangat Satu Bangsa. Putut Prabantoro, ketua panitia, mengatakan, sedianya akan hadir empat raja Jawa, yakni Sultan HB X, Susuhunan Paku Buwono XIII, KPAA Paku Alam IX, dan KPAA Mangkunegara IX. Namun, hanya Sultan yang hadir dalam pertemuan itu. Walau menyampaikan langsung pandangannya, Susuhunan Paku Buwono XIII mengirimkan makalah berjudul Membangun Kejayaan Bangsa Berbasis Kearifan Lokal. Sultan melanjutkan, orangtua dahulu selalu menanamkan budi pekeri dan akhlak kepada anak-anaknya. Mereka diminta menomorsatukan moralitas di atas segala-galanya. Sebab, dengan moral yang terjaga baik berbagai keinginan dan nafsu dapat diatasi sehingga tidak terjerembab pada perbuatan jahat. Dengan menjaga moralitas, mestinya orang yang memiliki integritas akan dihargai dan dihormati. Tetapi apa yang terjadi sekarang, seseorang dihargai atau dianggap orang hebat di antara tetangganya jika orang itu kaya.

“Di masyarakat sekarang, seseorang dilihat dari kekayaannya. Walau seseorang mengumpul harta kekayaannya dari korupsi dia tetap dihargai dan disegani karena kaya. Padahal, dari konsepsi moralitas dia telah kehilangan harga diri, berarti kehilangan segala-galanya,” ujar Sultan .

Mengingat praktik korupsi sudah merasuki masyarakat Jawa dan Indonesia umumnya, Sultan mengimbau agar kerifan lokal itu dihidupkan kembali dan dimulai dari diri sendiri dengan menyemai rasa malu jika menyimpang dari kaidah-kaidah moral. “Dengan konsepsi moralitas tadi, mestinya kita malu korupsi. Rasa malu korupsi ini yang harus kita tanamkan,” pesan Sultan. Sultan juga menyoroti kerapnya kekerasan yang terjadi mengatasnamakan aliran atau agama terhadap penganut aliran atau agama lain. Dia memaknai kehidupan pada dua relasi, yakni Ketuhanan dan Kemanusiaan. Ketuhanan hubungan vertikal manusia dengan Allah, yang transendental, sedangkan relasi manusia dengan manusia lainnya horizontal. “Dengan konsepsi itu, seharusnya tidak ada satu pihak yang memaksakan kehendaknya kepada orang lain dengan menatasnamakan kitab suci,” tutur Sultan. Konflik Tidak Tuntas Sarasehan Kebangsaan Rekonsiliasi Sejarah II ini membahas tentang Tata Baru untuk Rakyat, memaknai Perjanjian Giyanti pada 1755 yang membagi Kerajaan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta dan kemudian diikuti dengan munculnya Pura Mangkunegaran dan Kadipaten Pakualaman.

Selain Sultan, sejumlah wartawan senior tampil sebagai pembicara, yakni Wakil Pemimpin Redaksi harian Kompas Trias Kuncahyono, Wakil Pemimpin Redaksi Solo Pos Wahyu Susilo, Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Onlin Aulia A Muhammad, Pemimpin Redaksi Global TV Siane Indriyani, dan Wakil Pemimpin Redaksi Harian Joglosemar, dengan pembawa acara Kris Biantoro. Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Onlina Aulia A Muhammad mengatakan, konflik internal raja-raja Jawa dahulu sering berakhir tanpa penyelesaian tuntas. Solusi yang diambil, kalau terjadi perpecahan, maka satu pihak membentuk kerajaan baru. “Cara-cara seperti ini masih terus berlanjut sampai saat ini di bangsa kita. Lihatlah parpol-parpol kita, seperti PKB yang katanya Partai Kebangkitan Bangsa, tapi tidak bangkit-bangkit, malah justru pecah belah. Inilah karena penyelesaian konflik yang tidak tuntas,” ujarnya. Pembicara pertama, Trias Kuncahyono, mengatakan, media massa memiliki keberadaan strategis dalam perjalanan suatu bangsa. “Media massa, cetak maupun elektronik, adalah menggunakan kata-kata. Kata adalah kekuatan yang mahabesar. Kaum beriman mengenal kata kisah penciptaan, Terjadilah, maka terjadi. Tetapi kata bisa juga menghancurkan. Kalau media sering menyajikan kata-kata kebencian, maka kehancuran akan cepat terjadi,” ujarnya sembari mengimbau kalangan pers turut menyajikan berita-berita baik yang menyejukkan pembaca.

Mencegah konflik di masyarakat tradisional, kata Sultan, harus dimulai dengan perubahan pola pikir dan hidup dengan mulai biasa berkompetisi. “Kalau masyarakat tradisional beranggapan kompetisi itu merusak harmoni, sedangkan masyarakat modern menganggap kompetisi suatu hal yang baik sejauh masih bertujuan positif dan dapat dikendalikan.” Sultan juga membandingkan pelajaran hak asasi manusia versi Barat dan Jawa. “Kalau di Barat ditulis, jika kamu memukul orang, maka kamu melanggar pasal sekian… tetapi bagi leluhur kita, ajaran itu berbunyi, jika kamu sakit karena dipukul orang, maka kamu jangan pernah memukul orang,” katanya

Sumber : Kompas

March 12, 2010 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Cak Nun : Mewujudkan Yogyakarta Sebagai Serambi Madinah

Cak Nun : Mewujudkan Yogyakarta Sebagai Serambi Madinah

YOGYA (KRjogja.com) – Budayawan Emha Ainun Najib atau yang akrab disapa Cak Nun mengusulkan kepada pemerintah, Yogyakarta hendaknya dijadikan sebagai Serambi Madinah. Menurutnya, Yogyakarta yang dimaksud bukan Yogyakarta secara administratif, namun Yoyakarta secara kultural, yang sudah didirikan sejak jaman Kerajaan Mataram.

“Dua hari yang lalu saya diundang oleh pihak kraton, oleh Gusti Joyo (GBPH Joyokusumo) untuk membicarakan hal ini. Sebenarnya saya tidak punya hak untuk mengekspos. Intinya, dari dulu Ngayogyakarta ini sudah kaya’ Madinah, cuma perlu dikasih label saja, yaitu Serambi Madinah, untuk mengingatkan pluralisme model Madinah. Launchingnya kapan juga belum tahu, namun mungkin akan dilakukan di Serambi Masjid Gedhe” ujar Cak Nun di Yogyakarta, Senin (30/11).

Menurut cak Nun, hal ini wajar, lantaran kondisi pluralisme model Kota Madinah di jaman lahirnya Islam, memiliki kesamaan dengan tingkat toleransi yang ada di Yogyakarta. Menurutnya, dari sinilah bentuk keistimewaan Yogyakarta terlihat nyata, dimana Yogyakarta didatangi oleh berbagai kelompok pendatang, dengan aneka ragam budaya dan kepercayaan.

Kedepan, menurutnya, hal yang diutamakan dalam pembangunan Yogyakarta seperti konsep ketika Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni pengukuhan kedaulatan pangan dan multikulturalisme. “Yogyakarta secara kultural akan menjadi masyarakat Madaniah atau masyarakat madani, dimana yang utama adalah kedaulatan pangan, multikultural, baru unsur-unsur lainnya,” terangnya.

Untuk mewujudkannya, terang Cak Nun, perlu ada toleransi yang tinggi antar umat beragama. Dirinya juag mengimbau, para TNI agar tidak menilai orang berdasarkan agama dan menolong siapapun berdasarkan kemanusiaan tanpa melihat agama.

“Kebaikan itu tidak memakai identitas. Menolong orang jangan lihat dia Islam atau Kristen. Di Napoli, Eropa, ada orang Katholik yang menjadi ketua panitia pembangunan masjid. Di Canberra, Australia, ada pastor yang menyumbang 5.000 buku untuk perpustakaan masjid di sana. Bagaimana kalau itu dibalik dan diterapkan di sini, misalnya kyai membantu pembangunan gereja, apa kita siap untuk itu?” tanya Cak Nun.

Sumber:  KR Jogja

March 5, 2010 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

HARIAN JOGJA: Ngayogyakarta Serambi Madinah

Ngayogyakarta Serambi Madinah

HARIAN JOGJA: Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat siap memproklamirkan diri sebagai Ngayogyakarta Serambi Madinah. Konsep ini digadang-gadang akan mendukung keistimewaan DIY. Konsep daerah yang terinspirasi dari Piagam Madinah ini tengah digodok oleh Keraton dan ditargetkan selesai Maret tahun ini. Menurut Keraton, konsep Serambi Madinah ini ke depannya bukan hanya milik umat Islam, melainkan milik seluruh masyarakat Jogja.

“Saat ini kami bersama berbagai elemen sedang membahas secara periodik mengenai konsep Serambi Madinah,” jelas Penghageng Kewedanan Hageng Panitrapura Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat GBPH Joyokusumo.

“Pada prinsipnya, ‘Serambi Madinah’ akan menjadi produk budaya, bukan produk agama. Sehingga serambi merupakan milik mereka yang merasa warga Jogja,” tambahnya, kemarin.

Piagam Madinah yang dibuat pada masa kepemimpinan Nabi Muhammad SAW diakui sebagai bentuk perjanjian dan kesepakatan bersama bagi membangun masyarakat Madinah yang plural, adil, dan berkeadaban.

Diakui Gusti Joyo, konsep Ngayogyakarta Serambi Madinah dikaitkan dengan Piagam Madinah, yang pada waktu itu disusun masyarakat Madinah saat kepemimpinan Nabi Muhammad SAW melalui proses dialog.

“Butir-butir Piagam Madinah tersebut ada delapan. Lantas kita mencoba menguraikannya dengan kondisi Ngayogyakarta sejak dari masa Sri Sultan Hamengku Buwono I sampai masa Sri Sultan Hamengku Buwono IX,’’ katanya.

Digagas MUI
Awalnya konsep Ngayogyakarta sebagai Serambi Madinah telah dideklarasikan secara sepihak oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY, beberapa hari sebelum memasuki Bulan Suci Ramadan tahun lalu.

Lantas Keraton bersama beberapa organisasi masyarakat di DIY membahasnya secara matang. “Mereka yang terlibat adalah organisasi Islam, dan umat beragama lain yang tergabung dalam Forum Komunikasi Umat Beriman (FKUB). Serta, sejumlah kalangan dari perguruan tinggi,” tambah Gusti Joyo.

Piagam Madinah bisa dianalogikan dengan kondisi DIY yang dipenuhi pendatang. “Dan di bawah kepemimpinan Ngarso Dalem Ngayogyakarta suasana bisa tetap kondusif. Konsep Ngayogyakarta Serambi Madinah akan menambah makna keistimewaan DIY yang selama ini sudah terkenal sebagai kota pelajar, pariwisata, dan kota yang betoleransi.”

Ditambahkan adik kandung Sri Sultan Hamengku Buwono X ini, pembahasan konsep Ngayogyakarta Serambi Madinah ditargetkan akan selesai Maret tahun ini. “Sebelum launching, kami akan berkonsultasu dengan Sri Sultan,” katanya.

Posisi Sultan dalam konsep Serambi Madinah, nantinya sebagai ‘patron’. “Beliaulah nantinya yang akan mendeklarasikan. Sekaligus akan memberikan imbauan atau perintah kepada masyarakat. Dalam kaitan produk budaya itu bisa dikembangkan dalam menata masa depan kehidupan di DIY,” kata dia.

Terobosan positif
Sosiolog UGM Ari Sujito berpendapat, konsep Ngayogyakarta Serambi Madinah adalah sebuah terobosan baru untuk mendukung keistimewaan DIY. Apalagi spirit dari konsep tersebut adalah menghargai pluralisme.

Namun Ari menambahkan, konsep Ngayogyakarta Serambi Madinah akan benar-benar mendukung keistimewaan DIY jika dimasukkan dalam draft RUUK. Selama konsep tersebut tidak ada dalam draft RUUK maka hanya akan hadir sebagai wacana.

“Keraton harus mengclearkan konsep ini ke publik serta pemerintah pusat dan lantas diperdebatkan. Dengan harapan bisa dimasukkan dalam draft RUUK,” tambah Ari.

Kesamaan sejarah
MUI memiliki alasan sendiri mengapa mendeklarasikan Ngayogyakarta Serambi Madinah. Ditilik dari segi sejarah, perjalanan Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah ternyata memiliki kesamaan dengan kisah bergabungnya Jogja dengan NKRI.

“Muhammad yang berkedudukan sebagai kepala agama sekaligus kepala pemerintahan bersama umat muslim saat itu hijrah dari Mekkah ke Madinah. Keadaan ini serupa dengan keadaan DIY. Waktu dikejar-kejar Belanda, Bung Karno meminta izin Sultan agar bisa melindungi RI, jadi posisi Sultan HB IX sebagai pelindung atau pemberi suaka,” jelas Sekretaris Umum MUI DIY Ahmad Mukhsin Kamaludiningrat saat dihubungi Harian Jogja, tadi malam.

Keadaan Madinah menurut Ahmad juga memiliki kesamaan dengan Jogja yang identik dengan nuansa keragaman. Jogja sebagai miniatur Indonesia memiliki keberagaman agama, budaya, dan suku. Madinah, sebagai sebuah daerah juga memiliki keragaman agama yaitu Kristen, Yahudi dan Islam.

Konsep Nagyogyakarta Serambi Madinah pertamakali diusulkan MUI pada 19 Agustus 2006, dan saat itu proses pembahasan RUUK tengah panas. “Konsep ini lantas dibahas oleh tiga pihak, yakni keraton, Kanwil Depag, dan MUI. Setiap tahun, konsep ini terus disosialisasikan sehingga dikenal masyarakat. Puncaknya, pada 28 September 2009, ketiga pihak menandatangani MoU di Masjid Rejodani [Keraton], isinya sama-sama bertekat menjadikan Jogja sebagai Serambi Madinah,” jelas Ahmad.

Konsep Serambi Madinah untuk DIY lebih ditujukan untuk menjaga dan menghargai keragaman.

Oleh Andreas Tri Pamungkas, Mediani Dyah Natalia, & Laila Rochmatin
Sumber : HARIAN JOGJA

March 5, 2010 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Deklarasi Jogja Serambi Madinah oleh Tim Bukhoren Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

NGAYOGYAKARTA SERAMBI MADINAH

( Identifikasi, Visi dan Semangat)

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

بسم الله الرحمن الرحيم

Definisi

Serambi Madinah adalah sebutan untuk Ngayogyakarta Hadiningrat. Sebutan ini telah merepresentasikan karakter sosial, budaya dan keagamaan yang hidup dan berkembang secara riil, sehingga menggambarkan sosok khittah Ngayogyakarta Hadiningrat yang hakiki.

Ngayogyakarta Serambi Madinah ini bukan partai, bukan ormas dan bukan organisasi apapun juga bukan bagian dari struktur Pemerintah. Ia merupakan sebutan yang terekspresikan dari luapan cita rasa Adhiluhung yang mengental dalam diri masyarakat Ngayogyakarta tentang jatidiri mereka.

Tujuh Identifikasi

Kesamaan Madinah dengan Ngayogyakarta

1.    Sejiwa dengan Piagam Madinah yang berisi penguatan masyarakat plural yang aman dan damai dalam disiplin dan identitas keagamaan yang jelas.

2.    Pusat pengembangan peradaban dengan ilmu pengetahuan dan budaya

3.    Bersatunya kaum Muhajirin (transmigran) dan Anshor (pribumi) yang hakiki,

artinya masyarakat Bhinneka Tunggal Ika dalam kehangatan ukhuwah yang tulus dan sejati.

4.    Kawah candra-dimuka untuk mencetak tokoh-tokoh besar

5.    Tempat perlindungan bagi orang yang teraniaya.

6.    Wilayah pengembangan nilai-nilai tradisional religius.

7.    Karakter masyarakat yang ramah dan sopan.

Delapan Visi Serambi Madinah

1.    Agama adalah anugerah Allah swt untuk membimbing para hamba-Nya agar mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.

2.    Nikmat dan rahmat Allah swt amat banyak telah dilimpahkan pada hamba-Nya, maka haruslah disyukuri dan digunakan untuk hal-hal yang bermanfa’at dan diridhoi-Nya.

3.    Menyadari bahwa kehidupan hari ini adalah kelanjutan dari suatu proses yang telah berjalan panjang, maka di samping menghargai jasa-jasa dan prestasi para pendahulu kita juga harus melanjutkan dan mengembangkannya secara kreatif sebagai amanat amal jariyah.

4.    Menyadari akan keterbatasan setiap manusia maka mewujudkan generasi pelanjut yang lebih berkualiatas adalah suatu keharusan  yang tidak boleh diabaikan.

5.    Untuk mewujudkan kehidupan yang berkualitas, maka kebodohan dan keterbelakangan harus diperangi; oleh karena itu pendidikan mempunyai arti penting yang mutlak, baik pendidikan formal, informal, maupun non formal.

6.    Sebagai masyarakat yang berbudaya Adhiluhung, maka faktor moral dan akhlaqul karimah menjadi bingkai utama yang kokoh dan tegas dalam tatanan kehidupan sehari-hari.

7.    Agar tidak menjadi beban pada pihak lain dan demi menjaga muru’ah (hargadiri), maka jiwa Adhiluhung mengharuskan setiap pribadi memiliki penuh semangat dalam bekerja, berprestasi dan berjasa, tanpa mengabaikan tugas-tugas ritual keagamaannya.

8.    Sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan dalam menunaikan tugas dan kehidupan, maka dalam pergaulan harus saling menghormati, membantu, rukun dan  tenggang rasa.

Sepuluh Semangat Serambi Madinah

1.    Taqwa dalam beragama.

2.    Rukun dan hormat serta gotong royong dalam bermasyarakat

3.    Bersikap ramah dan sopan dalam bergaul.

4.    Hidup dengan landasan ilmu dan penuh ‘amal serta pengabdian

5.    Mewujudkan keluarga yang harmonis dalam mawaddah dan rahmah

6.    Mempersiapkan keturunan (anak cucu) sebagai generasi pelanjut yang lebih berkualitas

7.    Nguri-uri nilai-nilai lama yang bermanfa’at dan mengembangkannya secara selektif, sekaligus kreatif dan innovatif.

8.    Menghargai jasa para pendahulu / leluhur dan meneladaninya, serta menghargai setiap prestasi yang bermanfaat bagi kehidupan.

9.    Membangun karakter dan moral masyarakat dengan amar makruf nahi munkar secara bermartabat.

10.  Etos kerja yang tinggi untuk mencapai prestasi dalam bingkai tawakkal dan do’a.

Di-biwara-kan di Masjid Gedhe Yogyakarta

Tanggal 16 Agustus 2008 / 14 Sya’ban 1429

Tim Bukhoren

Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

GBPH H Joyokusumo

KH Aliy As’ad

HM Afandi, MPd.I

Beberapa Catatan :

a.    Bilangan tujuh (7) untuk identifikasi Kesamaan Madinah dengan Ngayogyakarta, diidentikkan dengan tujuh lapis langit yang disebutkan dalam Al Qur’an ( al. Surat Mulk ayat 3) dan jumlah hari. Juga dimaknakan agar memperoleh kemudahan dalam mencapai tujuan,dan dalam kata jawa disebutkan pitu yang dimaknakan agar memperoleh pitulungan (pertolongan, taufiq), pituduh (petunjuk, hidayah), dan pitutur (nasehat).

b.    Bilangan delapan (8) untuk visi Serambi Madinah, diidentikkan dengan jumlah para pejuang Ashabul Kahfi yang disebutkan dalam Al Qur’an (Surat Al Kahf ayat 22), jumlah butir do’a dalam duduk di antara dua sujud shalat, dan jumlah pintu sorga yang dijelaskan dalam hadits Nabi Muhammad saw. Karena itu visi ini mengandung semangat perjuangan yang tidak kenal padam untuk mencapai kesejahteraan dunia dan ridho Allah di sorga kelak.

c.    Bilangan sepuluh (10) untuk semangat Serambi Madinah, diidentikkan dengan kesempurnaan angka 10 yang disebutkan dalam Al Qur’an (Surat Al Baqarah ayat 196), dan bilangan 10 dimaknakan kembali ke nol yang berarti kembali pada kesucian yang fitri, juga lahirnya Serambi Madinah pada periode Sultan HB yang kesepuluh. Terkandung maksud suatu harapan semoga bersama kepemimpinan Sultan HBX ini masyarakat Serambi Madinah dapat menggapai kebahagiaan yang sempurna karena segala sepak terjangnya selalu dilandasi dengan kesucian hati yang fitri.

March 5, 2010 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Yogyakarta Siap Menjadi Serambi Madinah

Yogyakarta Siap Menjadi Serambi Madinah

Yogyakarta dibangun dengan konsep pesantren besar dan berbasis pada ke khalifahan.


Wacana untuk menjadikan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagai Serambi Madinah kian menguat. Provinsi tersebut dinilai layak menjadi Serambi Madinah, karena faktor sejarah. Guna mewujudkan DIY sebagai Serambi Madinah, diperlukan penguatan dalam bentuk peraturan daerah (perda), sekaligus untuk menguatkan keistimewaan Yogyakarta.

“Konsep untuk mewujudkan DIY sebagai Serambi Madinah sudah ada. Dalam waktu dekat ini, Keraton Ngayogyakarta juga akan mengadakan sarasehan untuk , mematangkan konsep tersebut,” ungkap Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY, Muhammad Jazir di sela-sela Semiloka Optimalisasi Pengelolaan Masjid di Yogyakarta, Sabtu (26/12).Menurut Jazir, konsep untuk menjadikan DIY sebagai Serambi Madinah, semata-mata ditujukan untuk mengembalikan jati diri Yogyakarta sesuai dengan konsep awal pembangunan wilayah tersebut. “Yogyakarta dibangun oleh Pangeran Mangkubumi I dengan konsep pesantren besardan bukan mengatasnamakan kekuasaan tetapi berbasis pada kekhalifahan,” paparnya. Dengan demikian, lanjut

Jazir, perwujudan DIY sebagai Serambi Madinah akan mampu mendukung keistimewaan DIY.Sehingga keistimewaan tersebut, papar dia, tidak hanya dimaknai dalam masalah pemilihan atau penetapan gubernur saja, tetapi lebih kepada cara untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.Menurut Jazir, perwujudan DIY sebagai Serambi Madinah tak harus dimaknai dengan pelaksanaan syariat Islam yang saklek, tetapi lebih kepada pengertian aplikatif bukan dalam arti formalistik tetapi berbasis peradaban.Melalui perwujudan DIY sebagai Serambi Madinah tersebut, papar dia, masyarakat Yogyakarta diharapkan dapat memiliki peluang lebih besar untuk mengaplikasikan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Pihaknya optimistis, perwujudan DIY sebagai Serambi Madinah tersebut tidak akan menimbulkan konflik baru di masyarakat, mengingat masyarakat Yogyakarta yang plural.

“Saya yakin, umat lain akan paham dan menerima, karena di dalam masyarakat dengan kaum Muslim sebagai mayoritas, maka umat minoritas akan terlindungi,” tutur Jazir menegaskan.Salah satu cara untuk mewujudkan DIY sebagai Serambi Madinah adalah penguatan fungsi masjid di masyarakat, khususnya dalam penyampaian dakwah. “Harus ada strategi khusus untuk menjadikan dakwah memiliki daya tarik dan kontekstual dengan marketing yang tepat,” papar Wali Kota Yogyakarta, Herry Zudianto yang menjadi pembicara dalam semiloka tersebut.

Dengan demikian, lanjutnya, masjid berfungsi menjadi pusat pencerahan kepada masyarakat, sehingga konsep untuk DIY sebagai Serambi Madinah dapat diwujudkan. Penguatan masjid pun, menurut Herry, dapat dilakukan dengan kemitraan antar-masjid, khususnya dalam manajemen. “Dengan manajemen yang terintegrasi, isu yang digulirkan pun akan menjadi lebih besar dan mengena di masyarakat,” ujarnya.

Menurut Babad Gianti, Yogyakarta atau Ngayogyakarta (bahasa Jawa, red) adalah nama yang diberikan Paku Buwono II (raja Mataram tahun 1719-1727) sebagai pengganti nama pesanggrahan Gartitawati. Yogyakarta berarti Yogya yang kerta, Yogya yang makmur, sedangkan Ngayogyakarta Hadiningrat berarti Yogya yang makmur dan yang paling utama.Sumber lain mengatakan, nama Yogyakarta diambil dari nama (ibu) kota Sanskrit Ayodhya dalam epos Ramayana. Dalam penggunaannya sehari-hari, Yogyakarta lazim diucapkan Jogja(karta) atau Ngayogyakarta (bahasa Jawa).

Sebelum Indonesia merdeka, Yogyakarta sudah mempunyai tradisi pemerintahan karena Yogyakarta adalah Kasultanan, termasuk di dalamnya terdapat juga Kadipaten Pakualaman. Daerah yang mempunyai asal-usul dengan pemerintahannya sendiri, di zaman penjajahan Hindia Belanda disebut Zelfbesturende Landschapperi. Di zaman kemerdekaan disebut dengan nama Daerah Swapraja.Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri sejak 1755 didirikan oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I. Kadipaten Pakualaman, berdiri sejak 1813, didirikan oleh Pangeran Notokusumo, (saudara Sultan Hamengku Buwono II)  kemudian bergelar Adipati Paku Alam I

March 5, 2010 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

MASJID GEDHE JOGJAKARTA

MASJID GEDHE  JOGJAKARTA

Masjid Gedhe Jogjakarta adalah masjid tertua yang dibangun oleh Kerajaan Islam Ngayogyokarto Hadiningrat atau Kasultanan Jogjakarta. Masjid Gedhe dibangun setelah Sri Sultan Hamengku Buwana I selesai membangun kraton baru, sebagai pusat pemerintahan baru hasil dari perundingan Giyanti (13-Februari- 1755 ). Perundinganm Giyanti merupakan penyelesaian akhir konflik internal Kerajaan Mataram akibat intervensi Belanda, sehingga Kerajaan Mataram dipecah menjadi dua, yaitu Ngayogyakarta Hadiningrat dan Surakarta Hadiningrat.

Sri Sultan Hamengku Buwana I sebelum jadi raja, ia seorang muslim yang taat mengerjakan sholat, puasa wajib dan puasa senin-kamis. Selain itu, ia juga pemberani dalam ber-amarmakruf-nahi mungkar membersihkan kemaksiatan, menegakkan keadilan dan kebenaran, serta melawan penjajahan. Ketika perang gerilya melawan Belanda, ia mumbuat pos-pos strategis untuk pasukannya dilengkapi dengan Mushola. Oleh karena itu, maka ketika Sri Sultan Hamengku Buwana I jadi raja, maka di samping membangun keraton ia pun juga mengutamakan membangun masjid jamik, sebagai sarana ibadah raja bersama rakyatnya. Dengan demikian, maka pada tahun 1773 M, Sri Sultan Hamengku Buwana I berhasil membangun masjid yang diberi nama awal dengan Masjid Gedhe, kemudian masjid itu dikenal pula dengan nama Masjid Agung, dan Masjid Besar, pada akhir ini ditetapkan sebagai Masjid Raya Daerah Istimewa Yogyakarta. Adapun letak Masjid Gedhe di sebelah barat laut Kraton Jogjakarta, juga di barat Alun-alun Jogjakarta.

Dalam rangka memakmurkan Masjid Gedhe, kepengurusannya dipegang oleh Penghulu Kraton, dibantu oleh Ketib, Modin, Merbot, dan Abdi Dalem Pamethakan serta Abdi Dalem Kaji Selusinan dan Abdi Dalem Barjamangah. Mereka itu sebagian ditempatkan di lingkungan sekitar Masjid Gedhe, yang kemudian berkembang menjadi sebuah kampung bernama Pakauman ( tempat para Kaum = Qoimmuddin = Penegak Agama ). Dengan demikian Masjid Gedhe menjadi makmur, sebagai pusat berjama’ah dan juga menjadi pusat pengkajian serta pengadilan agama Islam di Jogjakarta.

Tulisan ini menyajikan sejarah ringkas Masjid Gedhe, yang di dalamnya juga dikenalkan berbagai kelengkapan dan fungsinya yang unik salah satu masjid kerajaan di Jawa, Indonesia.

II. SEJARAH SINGKAT MASJID GEDHE KAUMAN JOGJAKARTA

Mesjid Gedhe Jogjakarta merupakan rangkaian yang tidak dapat dipisahkan dengan Karaton Ngayogyokarto Hadiningrat, yang didirikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwana I Senopati ing Ngalogo Abdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah ing Ngayogyokarto. Masjid Gedhe didirikan pada tanggal 29 Mei 1773 ( dalam prasasti : Pada hari Ahad Wage, 6 Robiul’akhir tahun Alip, sengkalan :“GAPURA TRUS WINAYANG JALMA” ( 1699 Jw.=1187 H=1773M)
Pemrakarsa adalah Sultan dan Kyai Penghulu Faqih Ibrahim Diponingrat, sedangkan sebagai arsiteknya yang terkenal waktu itu Kyai Wiryokusumo.

Oleh karena jamaahnya melimpah, maka pada tahun 1775 dibangunlah Serambi Masjid Gedhe ( didirikan pada: Hari Kamis Kliwon, tanggal 20 Syawwal tahun Jimawal, sinengkalan “ YITNO WINDU RESI TUNGGAL”=1701 Jw. Atau “TUNGGAL WINDU PANDITO RATU”= 1701 Jw.= 1189 H= 1775 M ). Serambi Masjid Gedhe selain dipakai untuk sholat, juga difungsikan sebagai “AL MAHKAMAH AL KABIROH”, yaitu sebagai pertemuan Alim Ulama, Pengajian Dakwah Islamiyah, Mahkamah untuk Pengadilan masalah keagamaan, pernikahan, perceraian, dan pembagian waris. Selain itu juga untuk peringatan hari-hari besar Agama Islam.

Selain Serambi, dibangun pula ”PAGONGAN” ( Pa= tempat, Gong= salah satu instrumen alat musik Jawa Gamelan), letaknya di halaman masjid, di dua tempat yaitu sudut kiri dan sudut kanan halaman. Tempat ini digunakan sebagai tempat peralatan dakwah dengan pendekatan kultural yaitu Gamelan Sekaten, yang dibunyikan pada setiap peringatan Maulid nabi Muhammad Saw. Instrumen musik Gamelan Sekaten ini sangat terkenal dan punya daya tarik pada masyarakat untuk mengenal dan kemudian memeluk agama Islam dengan sukarela. Nama SEKATEN sendiri berasal dari kata ”SYAHADATTAIN” yang berarti dua kalimah syahadat.

Pada tahun 1840 dibangun REGOL MASJID yaitu pintu gerbang yang dikenal sebagai GAPURO, berasal dari kata ”ghofuro” ampunan dari dosa, adapun maksudnya mungkin bila orang memasuki masjid melewati Gapuro, berniat baik memasuki Islam, akan mendapatkan ampunan dosa. Pembangunan regol ini dilakukan pada hari Senin, tanggal 23 Syuro tahun Dal, sengkalan ”PANDITO NENEM SEBDO TUNGGAL” = 1767Jw.=1255 H = 1867 M.

Pada tahun 1867 di Jogjakarta terjadi gempabumi yang cukup dahsyat, yang akibatnya termasuk runtuhnya bangunan Serambi Masjid Gedhe, dan bahkan juga membawa korban termasuk Kyai Pengulu yang menjabat pada saat itu. Peristiwa LINDU atau gempabumi itu tercatat pada prasasti yaitu pada hari Senin Wage, pukul 5 pagi, tanggal 7 Sapar tahun Ehe, sengkalan ”REBAHING GAPURA SWARA TUNGGAL” = 1796 Jw.=”WARNA MURTI PAKSA NABI” 1284 H = 1867 M. Namun tidak lama kemudian Sri Sultan Hamengku Buwana VI memberikan kagungan dalem ”SURAMBI MUNARA AGUNG” yang sedianya akan dipakai untuk bangunan pagelaran, kemudian ditempatkan sebagai Serambi Masjid Gedhe. Pemasangannya menurut prasasti ialah : pada hari Kamis Kliwon, pukul 09 pagi, tanggal 20 Jumadilakhir tahun Jimawal”PANDITA TRUS GIRI NATA”= 1797 Jw.”GATI MURTI NEMBAH HING HYANG”= 1285 H = 1868 M. Serambi Masjid Gedhe yang baru ini luasnya dua kali lipat dari serambi sebelumnya yang roboh, serambi yang baru masih utuh sampai kini.

Pada tahun 1917 dibangun gedung PAJAGAN ( Pa= tempat, Jaga = berjaga keamanan ), yang terletak di kanan kiri regol masjid, memanjang ke utara dan ke selatan. Gedung ini digunakan untuk para Prajurit Kraton ( tentara Kraton ), untuk keamanan masjid dan setiap hari besar Islam. Pada zaman Revolusi Perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia, gedung Pajagan ini digunakan untuk pusat MARKAS ULAMA ASYKAR PERANG SABIL (MU-APS)yang membantu TNI melawan Agresi Belanda.

Pada tahun 1933 atas prakarsa Sri Sultan Hamengku Buwana VIII, lantai serambi masjid yang tadinya dari batu kali diganti dengan tegel kembangan yang indah. Selain itu pula diadakan penggantuian atap masjid, dari sirap diganti dengan seng wiron yang tebal dan lebih kuat. Pada tahun 1936 atas prakarsa Sultan Hamengku Buwana VIII pula diadakan pergantian lantai dasar masjid, yang dulunya dari batu kali kemudian diganti dengan marmer dari Italia.

Pada zaman kemerdekaan Republik Indonesia, Masjid Gedhe juga mendapat perhatian dari pemerintah, yaitu diadakan renovasi dan berbagai bentuk pemeliharaan secara bertahab hingga sampai kini.

III. TATA RUANG MASJID GEDHE KAUMAN JOGJAKARTA

Masjid Gedhe Kauman Jogjakarta berbagunan itu tradisional Jawa, yaitu beratap tumpang tiga, dengan mustaka menggambarkan daun kluwih dan gadha. Arti makna atap tumpang tiga ialah tahapan kehidupan manusia dari Hakekat, Syari’at, dan Ma’rifat, kemudian makna daun kluwih adalah Linuwih= punya kelebihan yang sempurna, dan Gadha berarti tunggal= menyembah Tuhan Yang Maha Esa, makna keseluruhan ialah bila manusia sudah sampai Ma’rifat, hanya menyembah kepada Allah Swt. yang Tunggal ( taukhid ), maka manusia itu punya kelebihan kesampurnaan hidup. Dengan demikian siapa saja yang ikhlas ke masjid untuk ibadah kepada Allah Swt., maka akan selamat dunia akhiratnya.

Ruang Utama
Adalah ruang inti masjid yang letak lantainya paling tinggi sebagi ruang untuk ibadah sholat terutama rowatib. Ruang inti ini dilengkapi dengan PANGIMAMAN ( tempat imam memimpin sholat /MIHRAB)
MAKSURA ( tempat pengamanan sholat raja ) letaknya di samping kiri
belakang mihrab, terbuat dari kayu jati bujur sangkar, beram
kotak-kotak, di samping kanan dan kiri terdapat tempat tombak
dan di dalamnya berlantai marmer lebih tinggi dari yang di luar.
Apabila Sultan berkenan sholat berjamaah di Masjid Gedhe, ia
Mengambil tempat di dalam Maksura tersebut.
MIMBAR (tempat khotib menyampaikan khotbah jum’at ), terletak di
sebelah kanan belakang mihrab. Mimbar dibuat dari kayu jati
berhiaskan ukiran indah bentuk ornamen stilir tumbuh-tumbuh-
an dan bunga di prada emas. Kewibawaan mimbar ini bagaikan
singgasana berundak.
SHAF SHOLAT, ialah garis yang mengatur jamaah sholat agar mengarah
ke arah kiblat, dan lurus serta rapi. Pada mulanya arah sholat
lurus ke barat, namun setelah adanya perkembangan ilmu pe-
ngetahuan, ternyata arah kiblat (Ka’bah) agak serong keutara,
maka oleh KHA Dahlan dipelopori buat garis shof ke arah kiblat
yang sebenarnya.

2. Pawestren adalah ruangan khusus untuk sholat jama’ah kaum perempuan,
tempatnya di sebelah selatan bangunan inti masjid.

3. Yatihun adalah ruangan khusus untuk istirahat para ulama, khotib, dan mer-
bot. Selain itu juga digunakan untuk musyawarah membicara-
kan persoalan agama. Tempat ini di samping utara inti masjid.

4. Blumbang ( kolam ), pada awalnya Masjid Gedhe ini dilengkapi kolam me-
lingkar di muka Serambi. Kolam ini lebarnya lebih kurang 8
meter, dengan kedalaman 3 meter, yang berfungsi untuk ber-
suci dan ber wudlu sebelum masuk masjid. Namun pada saat
sekarang ini kolam sekedar hiasan, yang lebarnya tinggal 2
meter, dan dalamnya hanya 0,75 meter melingkar dimuka se-
rambi.

5. Serambi ( beranda ) terletak di sebelah timur bagunan inti masjid, sebagai
tempat sholat bila jama’ah dalam masjid inti penuh. Selain itu
juga digunakan sebagai tempat da’wah, pengajian, serta di-
fungsikan sebagai Mahkamah Al Kabiroh. Bila bangunan inti
masjid tidak glamour, tiangnya tanpa dicat, dan sedikit sekali
ragam hiasnya, sedangkan di serambu terkesan glamour se-
mua tiangnya di cat, terdapat berbagai ragam hias yang dicat
warna-warni dan diprada emas. Pada tiang serambi terdapat
kaligrafi ” Ar Rahmaan” dan ” Muhammad” yang diujudkan
bentuk stilir tumbuh-tumbuhan. Atap serambi bentuk limasan.

6. Benteng Masjid ialah bangunan tembok melingkari masjid. Benteng bagian
muka agak pendek, dan seriap gerbang masuk masjid di ka –
nan kiriya ada hiasan ” Buah Waluh” yang maknanya menye
but nama Allah Swt. Supaya selalu ingat pada Allah Swt.
7. Pasucen ialah tempat permulaan suci, letaknya memanjang ke timur, di muka
bagian tengah serambi ke arah timur ( seperti doorlop ) menga-
ke regol. Ini sebagai jalan utama Sultan masuk masjid Gedhe.

8. Pagongan ada dua bangunan di kanan dan kiri bagian dalam plataran masjid
Pagongan ini tempat Gamelan Sekaten yang dibunyikan setiap
peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. Yang diadakan oleh
Sri Sultan bersama rakyatnya.

9. Pajagan adalah tempat prajurit kraton berjaga keamanan masjid. Gedung ini
terletak memanjang di kanan kiri Gapura. Pada saat ini diguna-
untuk perpustakaan masjid dan tempat pertemuan.

10. GAPURA ( REGOL) adalah pintu gerbang utama memasuki kompleks mas-
jid. Bentuk gapuro iniadalah Semar Tinandu. Melalui gapura
ini para ulama meng-Islamkan masyarakat yang hendak me-
lihat dan mendengarkan bunyi gamelan di plateran masjid.

IV. Aktivitas Masjid Gedhe Kauman Jogjakarta

a. Aktivitas rutin setiap Jum’at untuk Sholat Jum’at, kapasitas masjid seka-
rang ini sudah penuh, sampai diluar serambi.
b. Pengajian : 1. Khusus Bahasa Jawa ( setiap habis subuh hari sabtu )
2. Tafsir Al Qur’an ( setiap malam Ahad )
3. Remaja Masjid ( setiap Ahad pagi )
4. Antara Maghrib & Isya’ ( setiap malam Jum’at )
5. Tafsir Kitab Kuning ( setiap malam Sabtu )
c. Peringatan Hari Besar Islam
d. Romadlon : 1. Sholat Tarowih dua kali, sehabis Isya’ dan menjelang sahur
2. Tadarus Al Qur’an dan terjemahannya
3. Takjilan buka bersama untuk 600 orang setiap hari
4. Iktikaf,
5. Kajian Ahad Pagi, dan sebagainya.
e. Insidental : Untuk kegiatan sosial, politik , kebudayaan dan sebagainya,
seperti Do’a bersama dan Sholat Lail untuk perjuangan Islam,
baik pada zaman Jepang, Revolusi pisik mempertahankan RI,
perjuangan amar makruf nahi mungkar untuk perbaikan dan
perubahan pemerintahan ( zaman penumbangan orde lama,
zaman reformasi penumbangan orde baru, dan sebagainya.
Beberapa kegiatan menerima tamu dari luarnegeri dan dalam
Negeri.
Kegiatan pengIslaman bagi orang yang sadar masuk Islam.
Kegiatan upacara pernikahan dan walimatu urusy, dan juga
Upacara menghantarkan jenzah.

March 5, 2010 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

MENEMUKAN KEMBALI AKAR BUDAYA JOGJAKARTA DALAM PERSPEKTIF ISLAM

MENEMUKAN KEMBALI
AKAR BUDAYA JOGJAKARTA
DALAM PERSPEKTIF ISLAM

OLEH : A. ADABY DARBAN

AHMAD ADABY DARBAN,tinggal di Kauman Jogjakarta (55122).Pada hari Senin s/d Jumat nongkrong di Jurusan Sejarah FIB UGM
MUQADIMAH

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Berbicara Kebudayaan,C.Kluckhohn dan L.Koerber telah mengumpulkan
160 difinisi, yang kesemuanya memiliki muara dan titik temu bahwa Kebudayaan itu adalah man made atau ciptaan/produk dari kreativitas manusia. Dengan demikian itu perlu disadari bahwa diskusi ini adalah membicarakan “Akar Budaya Jogjakarta” dalam arti hasil kreativitas masyarakat Jogjakarta dalam menghadapi tantangan dan perjalanan hidupnya. Oleh karena itu akan dapat dilihat dinamika dan proses dialogis yang panjang dari berbagai unsur yang mempengaruhinya, sehingga akan membentuk sebuah kontruksi budaya Jogjakarta, atau lebih lanjut dikenal sebagai Budaya Jawa.

Dalam makalah pendek ini akan berusaha untuk menelusuri dalam rangka mencari unsur-unsur Islam yang mewarnai Kebudayaan Jogjakarta. Sebelumnya perlu disadari bahwa masuknya ajaran Islam dalam Kebudayaan Jogjakarta melalui suatu dinamika dan proses yang panjang. Oleh karena perkembangan kebudayaan itu melalui sebuah proses, maka tidak dapat dilihat secara hitam-putih atau kemutlakkan. Bahkan sampai kini proses itu pun belum selesai, masih terus bergulir, tergantung oleh para pelaku dan para pejuang yang mengiginkan ajaran Islam secara mantab mewarnai budaya Jogjakarta. Perjuangan untuk menanamkan nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan budaya masyarakat Jogjakarta ini, kalau tidak berlebihan dapat dikatakan sebagai Jihad bit -Tsaqofah.

Oleh karena itu, usaha untuk menemukan kembali Akar Budaya Jogjakarta dalam prespektiv Islam ini, tidaklah berhenti hanya sekedar mengaguminya,namun lebih dari itu menyambung dan mengisi kembali ajaran Islam dalam kehidupan budaya Jogjakarta dimasa kini dan masa yang akan datang dengan lebih mantab.

Bila ditelusuri secara mandalam, akar budaya Jogjakarta memiliki hubungan yang sangat panjang, yaitu sejak Kerajaan Demak, Pajang, dan
Mataram Islam. Pada makalah dibatasi mulai dari berdirinya Kerajaan Ngayogyakarto Hadiningrat, dan dengan pendekatan historis.
ISLAM DI KRATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT

Membicarakan Akar Budaya Jogjakarta tidak dapat dipisahkan oleh keberadaan Kraton (Kerajaan) Ngayogyakarta Hadiningrat sebagi pusat sekaligus pengembang dan penjaga budaya Jogjakarta/ Kebudayaan Jawa,
Kerajaan Ngayogjakarta Hadiningrat ( lebih lanjut disebut Kraton Jogja ) adalah pewaris syah Kerajaan Mataram Islam. Nilai dasar atau Ruh Kraton Jogja adalah Islam, oleh karena itu kunci untuk mengungkap Kraton Jogja adalah dengan ajaran Islam ( menurut GBPH Joyokusumo ).
Ajaran yang berupa Hakikat, Syari’at, dan Ma’rifat Islamiyah diusahakan berjalan dengan menggunakan simbol-simbol dan pendekatan budaya Jawa.

Dilihat dari sejarahnya, P. Mangkubumi pendiri Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat, adalah putera Amangkurat IV, yang pengamalan Islamnya kuat. Sholat lima waktu tidak pernah ditinggalkan, gemar mengaji bahkan hafal sebagian ayat-ayat Al Qur’an, dan melakukan puasa Senin dan Kamis, serta peduli pada fakir miskin, kaum yang lemah di pedesaan. Pada masa mudanya terkenal berani ber amar makruf nahi mungkar untuk melawan segala bentuk kemaksiyatan, baik di lingkungan istana maupun juga di pedesaan ( Serat Cebolek ).

Ketika perang melawan Kedloliman penjajah Belanda, P. Mangubumi selalu membuat Mushola di pos-pos pasukannya di pedesaan. Mushola itu difungsikan untuk jama’ah sholat fardlu, juga untuk menyolatkan para syuhada’ yang gugur dalam perjuangan ( Babad Giyanti ).

Setelah Perjanjian Giyanti ( 1755 ) ditandatangani, P. Mangubumi diberi hak untuk mendirikan kerajaan baru bagian dari “ Palihan Nagari Mataram”, maka didirikanlah Karajaan Ngayogyakarta Hadiningrat, ia sebagai raja dengan gelar “ Sri Sultan Hamengku Buwana Senapati ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatulah ing Ngayogyakarta”. Kerajaan baru ini ditetapkan sebagai kerajaan Islam, yang meneruskan tradisi kerajaan Mataram Islam. Simbol-simbol yang memiliki makna keIslaman dicantumkan dalam bangunan pisik maupun karya sastra.

Sebagai kerajaan Islam Kasultanan Jogjakarta menghidupkan syari’at Islam, yaitu antara lain menjalankan hukum Islam dengan membuat : “Mahkamah Al Kabiroh” di serambi Masjid Gedhe Kauman, disamping mumbuat masjid karajaan ( Masjid Gedhe ), juga membuat Masjid Pathok Negara ( batas negara agung/ ibukota ) dilengkapi dengan tanah perdikan untuk pesantren. Dibangun pula Masjid Panepen ( untuk I’tiqaf Sultan, letaknya di dalam kraton ), dan Masjid Suronoto untuk sholat para abdi dalem ( letaknya di Keben ). Selain masjid, dalam struktur kraton juga terdapat pejabat yang mengurusi perkembangan agama Islam, yang dikepalai oleh Penghulu Kraton, dibantu Kaji Selusinan dan para Ketib.

Kraton Jogjakarta juga masih terus menghidupkan upacara-upacara yang bernafaskan Islam, antara lain “ Sekaten”dan Grebeg Mulud ( untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.); Grebeg Syawal dan Silaturahmi Sultan dengan Rakyat ( menyambut Idul Fitri ); Grebeg Besar ( memperingati hari raya Idul Adha ), tidak lupa sultan juga membagikan Zakat Fitrah dan Hewan Qurban.

Keturunan sultan (raja), yaitu Sentana nDalem bila akan menikah harus dengan sesama muslim. Pernikahan dan pembagian hukum waris di kraton juga dengan Hukum Islam. Di dalam lingkungan beteng kraton (nJeron Beteng) tidak boleh ada warga asing China, dan tidak dibolehkan berdiri tempat ibadah kecuali hanya Masjid ( sumber Rijksblad ).

Pada awalnya Setiap Jum’at Kliwon Sultan Khutbah di Masjid Gedhe, dan juga tidak dilarang ibadah Haji. Namun setelah adanya Java Oorlog (perang Jawa/ P. Dipanegara ), maka Belanda membuat peraturan ketat kepada Sultan Jogjakarta yang dinilai patriotik melawan Belanda dan membantu P. Dipanegara dari belakang. Pihak Belanda mencurigai bahwa semangat patriotik melawan Belanda itu ada pengaruh dari Ibadah Haji di Asia Barat, sehingga dilarang untuk melaksanakan Ibadah Haji bagi Sultan Jogjakarta. Selain itu Sultan juga dibatasi untuk sholat di Masjid Gedhe, tidak boleh Khurbah, dalam rangka memisahkan silaturahmi dan kharisma dengan rakyatnya. Terhadap karya tulis resmi kerajaan mendapatkan sensor ketat, sehingga mematikan kreativitas para pujangga kraton. Yang lebih membelenngu sultan ialah, untuk pemerintahan harian harus didelegasikan kepada Patih ( yang digaji dan mendapat pengaruh Belanda ).

Selain itu Belanda mulai memasukkan pengaruhnya ke dalam kraton, dengan melalui pendidikan, seperti Sekolah Taman ( Gurunya orang-orang Belanda ); Memasukkan para Suster Rumah sakit Belanda untuk merawak keluarga sultan. Pihak penguasa Belanda juga meminta tanah milik kraton di luar benteng untuk didirikan antara lain Rumah Sakit, Biara, Gereja, dan Sekolah-sekolah Nasrani di Jogjakarta. Pada waktu itu posisi sultan lemah, sehingga tidak dapat menolak. Oleh karena itu, pada era pemerintahan HB V sampai dengan HB VII, kegiatan ke –Islaman kraton agak kurang terang-terangan, sehingga banyak dimunculkan dengan simbol-simbol yang dibungkus dengan budaya Jawa.
ISLAM DALAM BUDAYA JOGJAKARTA

Ada dua kaidah dasar dalam kehidupan masyarakat Jawa, yaitu :
Pertama Prinsip RUKUN, yaitu untuk mewujudkan dan mempertahankan masyarakat dalam keadaan yang harmonis, yaitu tenang, selaras, tenang, dan tentram, bersatu saling membantu. Kedua Prinsip HORMAT, memainkan peran yang besar dalam mengatur pola interaksi sosial masyarakat Jawa.( baca: Cliford Geertz,The Religion of Java )

Selain dua kaidah dasar, masyarakat Jawa termasuk Jogjakarta memiliki beberapa nilai yang menjadi pegangan dalam kehidupannya, yaitu antara lain :
Nrimo : mensyukuri kepada apa yang telah diperoleh, dan jika terjadi sesuatu halangan setelah diusahakan, maka mereka nrimo atau pasrah kepada Allah, menyadari bahwa itu sudah menjadi kehendaknya ( “nrimo ing pandum”).
Dalam ajaran Islam sikap mensyukuri karunia dari Allah SWT. merupakan kewajiban bagi seorang hamba, dan Allah SWT. akan memberikan berkah karunia yang lebih banyak di masa mendatang.

Sabar : “sing sabar-subur”, artinya orang yang sabar itu akan mendapatkan kesejahteraan dan keselamatan. Dalam menyelasaikan masalah tidak boleh gegabah, dalam mengusahakan sesuatu tidak “ “nggege mangsa”, menurut prosedur yang benar, dilakukan dengan penuh kesabaran. Ajaran tentang sabar ini jelas berasal dari ajaran Islam.

Gotong Royong: adalah nilai kebersamaan yang saling peduli, saling bantu membantu dalam meringankan beban dalam kehidupan bermasyarakat. Gotong Royong ini juga terdapat dalam ajaran Islam yang menganjurkan untuk “ Bertolong-tolonglah kamu dalam perbuatan baik berdasarkan Taqwa “

Taqwa: dalam masyarakat Jawa, taqwa merupakan pakaian dalam kehidupan, yaitu diajarkan dekat dengan Allah SWT. dengan menta’ati perintah dan menjauhi laranganNya. Taqwa ini disimbolkan dengan Baju
Takwo.

Rembug Bareng : di dalam memutuskan sesuatu yang mengandung harkat, kepentingan orang banyak, maka selalu diadakan Rembug Bareng, sering juga disebut Rembug Desa. Hal ini mengingatkan kita pada ajaran Islam “ Musyawarah”, untuk memutuskan sesuatu sehingga akan mendapatkan wawasan dan keadilan.

Tepa-Slira : adalah memahami dan menghormati perasaan orang lain, dalam rangka menjaga persaudaraan, dan menjauhkan dari segala macam konflik. Dalam Ajaran Islam manusia diharapkan untuk Tafahum atau saling memahami dalam perbedaan, diharapkan akan dapat saling menjaga diri dari perpecahan.

Ojo Dumeh : dilarang berbuat kibir (takabur/Sombong), dan merendahkan orang lain. Larangan Takabur-Sombong ini dalam ajaran Islam jelas sangat ditekankan kepada umat.

Masih banyak beberapa sifat budaya Jogjakarta/Jawa yang memiliki nafas yang sama dengan ajaran Islam. Ajaran Islam yang sudah lama dikembangkan dalam masyarakat Jogjakarta, memiliki andil yang besar dalam mewarnai kehidupan berbudaya. Hanya dalam penampilannya banyak yang dibungkus dengan istilah Jawa.

BUDAYA SENI

Budaya berwujud Seni yang mendapatkan nafas Islam di Jogjakarta ini dapat dilihat antara lain pada : Seni Sastra, seperti Serat Muhammad, Serat Ambiya’, Serat Tajus Salatin, dan sebagainya. Seni Suara, seperti Macapat, Langen Swara, Slawatan, dan sebagainya. Seni Lukis, seperti kaligrafi di bangunan kraton dan masjid. Seni Musik, seperti Gamelan Sekaten. Seni Pedalangan, seperti dimunculkannya Wayang Sadat, Episode Dewa Ruci dan Jimat Kalimasada, serta tokoh Punokawan dalam pewayangan, san sebagainya.

Dalam seni pengaturan negera ( berpolitik ), pejabat negara mendapatkan status sebagai “ Pamong” sama dengan “Pangon” yang artinya penggembala. Makna yang terkandung di dalamnya ialah, pejabat negara adalah pelayan umat, yang melindungi, menngusahakan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Oleh karena itu, zaman dulu tidak menggunakan kata “ Pemerintah”, yang lebih berkonotasi “ Tukang Perintah “, kemudian berdampak justeri minta dilayani rakyat dengan perimntah-perintahnya. Sesungguhnya istilah Pamong lebih tepat, dan selaras dengan ajaran Islam, yaitu RO’IN, yang artinya penggembala atau yang mengelola.

Demikian sedikit tentang Usaha menemukan kembali Akar Budaya Jogjakarta dalam Perspektif Islam. Apa yang disampaikan ini masih sangat terbatas dan bagian kecil dari seluruh akar budaya Jogjakarta yang bernafaskan Islami. Kiranya perlu dikembangkan dengan penelitian lebih lanjut dikemudian hari. Alhamdulillaahi robbil’alamiin.

March 5, 2010 Posted by | Uncategorized | Leave a comment