Jogja Serambi Madinah

Deklarasi Jogja Serambi Madinah oleh Tim Bukhoren Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

NGAYOGYAKARTA SERAMBI MADINAH

( Identifikasi, Visi dan Semangat)

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

بسم الله الرحمن الرحيم

Definisi

Serambi Madinah adalah sebutan untuk Ngayogyakarta Hadiningrat. Sebutan ini telah merepresentasikan karakter sosial, budaya dan keagamaan yang hidup dan berkembang secara riil, sehingga menggambarkan sosok khittah Ngayogyakarta Hadiningrat yang hakiki.

Ngayogyakarta Serambi Madinah ini bukan partai, bukan ormas dan bukan organisasi apapun juga bukan bagian dari struktur Pemerintah. Ia merupakan sebutan yang terekspresikan dari luapan cita rasa Adhiluhung yang mengental dalam diri masyarakat Ngayogyakarta tentang jatidiri mereka.

Tujuh Identifikasi

Kesamaan Madinah dengan Ngayogyakarta

1.    Sejiwa dengan Piagam Madinah yang berisi penguatan masyarakat plural yang aman dan damai dalam disiplin dan identitas keagamaan yang jelas.

2.    Pusat pengembangan peradaban dengan ilmu pengetahuan dan budaya

3.    Bersatunya kaum Muhajirin (transmigran) dan Anshor (pribumi) yang hakiki,

artinya masyarakat Bhinneka Tunggal Ika dalam kehangatan ukhuwah yang tulus dan sejati.

4.    Kawah candra-dimuka untuk mencetak tokoh-tokoh besar

5.    Tempat perlindungan bagi orang yang teraniaya.

6.    Wilayah pengembangan nilai-nilai tradisional religius.

7.    Karakter masyarakat yang ramah dan sopan.

Delapan Visi Serambi Madinah

1.    Agama adalah anugerah Allah swt untuk membimbing para hamba-Nya agar mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.

2.    Nikmat dan rahmat Allah swt amat banyak telah dilimpahkan pada hamba-Nya, maka haruslah disyukuri dan digunakan untuk hal-hal yang bermanfa’at dan diridhoi-Nya.

3.    Menyadari bahwa kehidupan hari ini adalah kelanjutan dari suatu proses yang telah berjalan panjang, maka di samping menghargai jasa-jasa dan prestasi para pendahulu kita juga harus melanjutkan dan mengembangkannya secara kreatif sebagai amanat amal jariyah.

4.    Menyadari akan keterbatasan setiap manusia maka mewujudkan generasi pelanjut yang lebih berkualiatas adalah suatu keharusan  yang tidak boleh diabaikan.

5.    Untuk mewujudkan kehidupan yang berkualitas, maka kebodohan dan keterbelakangan harus diperangi; oleh karena itu pendidikan mempunyai arti penting yang mutlak, baik pendidikan formal, informal, maupun non formal.

6.    Sebagai masyarakat yang berbudaya Adhiluhung, maka faktor moral dan akhlaqul karimah menjadi bingkai utama yang kokoh dan tegas dalam tatanan kehidupan sehari-hari.

7.    Agar tidak menjadi beban pada pihak lain dan demi menjaga muru’ah (hargadiri), maka jiwa Adhiluhung mengharuskan setiap pribadi memiliki penuh semangat dalam bekerja, berprestasi dan berjasa, tanpa mengabaikan tugas-tugas ritual keagamaannya.

8.    Sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan dalam menunaikan tugas dan kehidupan, maka dalam pergaulan harus saling menghormati, membantu, rukun dan  tenggang rasa.

Sepuluh Semangat Serambi Madinah

1.    Taqwa dalam beragama.

2.    Rukun dan hormat serta gotong royong dalam bermasyarakat

3.    Bersikap ramah dan sopan dalam bergaul.

4.    Hidup dengan landasan ilmu dan penuh ‘amal serta pengabdian

5.    Mewujudkan keluarga yang harmonis dalam mawaddah dan rahmah

6.    Mempersiapkan keturunan (anak cucu) sebagai generasi pelanjut yang lebih berkualitas

7.    Nguri-uri nilai-nilai lama yang bermanfa’at dan mengembangkannya secara selektif, sekaligus kreatif dan innovatif.

8.    Menghargai jasa para pendahulu / leluhur dan meneladaninya, serta menghargai setiap prestasi yang bermanfaat bagi kehidupan.

9.    Membangun karakter dan moral masyarakat dengan amar makruf nahi munkar secara bermartabat.

10.  Etos kerja yang tinggi untuk mencapai prestasi dalam bingkai tawakkal dan do’a.

Di-biwara-kan di Masjid Gedhe Yogyakarta

Tanggal 16 Agustus 2008 / 14 Sya’ban 1429

Tim Bukhoren

Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

GBPH H Joyokusumo

KH Aliy As’ad

HM Afandi, MPd.I

Beberapa Catatan :

a.    Bilangan tujuh (7) untuk identifikasi Kesamaan Madinah dengan Ngayogyakarta, diidentikkan dengan tujuh lapis langit yang disebutkan dalam Al Qur’an ( al. Surat Mulk ayat 3) dan jumlah hari. Juga dimaknakan agar memperoleh kemudahan dalam mencapai tujuan,dan dalam kata jawa disebutkan pitu yang dimaknakan agar memperoleh pitulungan (pertolongan, taufiq), pituduh (petunjuk, hidayah), dan pitutur (nasehat).

b.    Bilangan delapan (8) untuk visi Serambi Madinah, diidentikkan dengan jumlah para pejuang Ashabul Kahfi yang disebutkan dalam Al Qur’an (Surat Al Kahf ayat 22), jumlah butir do’a dalam duduk di antara dua sujud shalat, dan jumlah pintu sorga yang dijelaskan dalam hadits Nabi Muhammad saw. Karena itu visi ini mengandung semangat perjuangan yang tidak kenal padam untuk mencapai kesejahteraan dunia dan ridho Allah di sorga kelak.

c.    Bilangan sepuluh (10) untuk semangat Serambi Madinah, diidentikkan dengan kesempurnaan angka 10 yang disebutkan dalam Al Qur’an (Surat Al Baqarah ayat 196), dan bilangan 10 dimaknakan kembali ke nol yang berarti kembali pada kesucian yang fitri, juga lahirnya Serambi Madinah pada periode Sultan HB yang kesepuluh. Terkandung maksud suatu harapan semoga bersama kepemimpinan Sultan HBX ini masyarakat Serambi Madinah dapat menggapai kebahagiaan yang sempurna karena segala sepak terjangnya selalu dilandasi dengan kesucian hati yang fitri.

March 5, 2010 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: