Jogja Serambi Madinah

MENEMUKAN KEMBALI AKAR BUDAYA JOGJAKARTA DALAM PERSPEKTIF ISLAM

MENEMUKAN KEMBALI
AKAR BUDAYA JOGJAKARTA
DALAM PERSPEKTIF ISLAM

OLEH : A. ADABY DARBAN

AHMAD ADABY DARBAN,tinggal di Kauman Jogjakarta (55122).Pada hari Senin s/d Jumat nongkrong di Jurusan Sejarah FIB UGM
MUQADIMAH

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Berbicara Kebudayaan,C.Kluckhohn dan L.Koerber telah mengumpulkan
160 difinisi, yang kesemuanya memiliki muara dan titik temu bahwa Kebudayaan itu adalah man made atau ciptaan/produk dari kreativitas manusia. Dengan demikian itu perlu disadari bahwa diskusi ini adalah membicarakan “Akar Budaya Jogjakarta” dalam arti hasil kreativitas masyarakat Jogjakarta dalam menghadapi tantangan dan perjalanan hidupnya. Oleh karena itu akan dapat dilihat dinamika dan proses dialogis yang panjang dari berbagai unsur yang mempengaruhinya, sehingga akan membentuk sebuah kontruksi budaya Jogjakarta, atau lebih lanjut dikenal sebagai Budaya Jawa.

Dalam makalah pendek ini akan berusaha untuk menelusuri dalam rangka mencari unsur-unsur Islam yang mewarnai Kebudayaan Jogjakarta. Sebelumnya perlu disadari bahwa masuknya ajaran Islam dalam Kebudayaan Jogjakarta melalui suatu dinamika dan proses yang panjang. Oleh karena perkembangan kebudayaan itu melalui sebuah proses, maka tidak dapat dilihat secara hitam-putih atau kemutlakkan. Bahkan sampai kini proses itu pun belum selesai, masih terus bergulir, tergantung oleh para pelaku dan para pejuang yang mengiginkan ajaran Islam secara mantab mewarnai budaya Jogjakarta. Perjuangan untuk menanamkan nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan budaya masyarakat Jogjakarta ini, kalau tidak berlebihan dapat dikatakan sebagai Jihad bit -Tsaqofah.

Oleh karena itu, usaha untuk menemukan kembali Akar Budaya Jogjakarta dalam prespektiv Islam ini, tidaklah berhenti hanya sekedar mengaguminya,namun lebih dari itu menyambung dan mengisi kembali ajaran Islam dalam kehidupan budaya Jogjakarta dimasa kini dan masa yang akan datang dengan lebih mantab.

Bila ditelusuri secara mandalam, akar budaya Jogjakarta memiliki hubungan yang sangat panjang, yaitu sejak Kerajaan Demak, Pajang, dan
Mataram Islam. Pada makalah dibatasi mulai dari berdirinya Kerajaan Ngayogyakarto Hadiningrat, dan dengan pendekatan historis.
ISLAM DI KRATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT

Membicarakan Akar Budaya Jogjakarta tidak dapat dipisahkan oleh keberadaan Kraton (Kerajaan) Ngayogyakarta Hadiningrat sebagi pusat sekaligus pengembang dan penjaga budaya Jogjakarta/ Kebudayaan Jawa,
Kerajaan Ngayogjakarta Hadiningrat ( lebih lanjut disebut Kraton Jogja ) adalah pewaris syah Kerajaan Mataram Islam. Nilai dasar atau Ruh Kraton Jogja adalah Islam, oleh karena itu kunci untuk mengungkap Kraton Jogja adalah dengan ajaran Islam ( menurut GBPH Joyokusumo ).
Ajaran yang berupa Hakikat, Syari’at, dan Ma’rifat Islamiyah diusahakan berjalan dengan menggunakan simbol-simbol dan pendekatan budaya Jawa.

Dilihat dari sejarahnya, P. Mangkubumi pendiri Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat, adalah putera Amangkurat IV, yang pengamalan Islamnya kuat. Sholat lima waktu tidak pernah ditinggalkan, gemar mengaji bahkan hafal sebagian ayat-ayat Al Qur’an, dan melakukan puasa Senin dan Kamis, serta peduli pada fakir miskin, kaum yang lemah di pedesaan. Pada masa mudanya terkenal berani ber amar makruf nahi mungkar untuk melawan segala bentuk kemaksiyatan, baik di lingkungan istana maupun juga di pedesaan ( Serat Cebolek ).

Ketika perang melawan Kedloliman penjajah Belanda, P. Mangubumi selalu membuat Mushola di pos-pos pasukannya di pedesaan. Mushola itu difungsikan untuk jama’ah sholat fardlu, juga untuk menyolatkan para syuhada’ yang gugur dalam perjuangan ( Babad Giyanti ).

Setelah Perjanjian Giyanti ( 1755 ) ditandatangani, P. Mangubumi diberi hak untuk mendirikan kerajaan baru bagian dari “ Palihan Nagari Mataram”, maka didirikanlah Karajaan Ngayogyakarta Hadiningrat, ia sebagai raja dengan gelar “ Sri Sultan Hamengku Buwana Senapati ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatulah ing Ngayogyakarta”. Kerajaan baru ini ditetapkan sebagai kerajaan Islam, yang meneruskan tradisi kerajaan Mataram Islam. Simbol-simbol yang memiliki makna keIslaman dicantumkan dalam bangunan pisik maupun karya sastra.

Sebagai kerajaan Islam Kasultanan Jogjakarta menghidupkan syari’at Islam, yaitu antara lain menjalankan hukum Islam dengan membuat : “Mahkamah Al Kabiroh” di serambi Masjid Gedhe Kauman, disamping mumbuat masjid karajaan ( Masjid Gedhe ), juga membuat Masjid Pathok Negara ( batas negara agung/ ibukota ) dilengkapi dengan tanah perdikan untuk pesantren. Dibangun pula Masjid Panepen ( untuk I’tiqaf Sultan, letaknya di dalam kraton ), dan Masjid Suronoto untuk sholat para abdi dalem ( letaknya di Keben ). Selain masjid, dalam struktur kraton juga terdapat pejabat yang mengurusi perkembangan agama Islam, yang dikepalai oleh Penghulu Kraton, dibantu Kaji Selusinan dan para Ketib.

Kraton Jogjakarta juga masih terus menghidupkan upacara-upacara yang bernafaskan Islam, antara lain “ Sekaten”dan Grebeg Mulud ( untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.); Grebeg Syawal dan Silaturahmi Sultan dengan Rakyat ( menyambut Idul Fitri ); Grebeg Besar ( memperingati hari raya Idul Adha ), tidak lupa sultan juga membagikan Zakat Fitrah dan Hewan Qurban.

Keturunan sultan (raja), yaitu Sentana nDalem bila akan menikah harus dengan sesama muslim. Pernikahan dan pembagian hukum waris di kraton juga dengan Hukum Islam. Di dalam lingkungan beteng kraton (nJeron Beteng) tidak boleh ada warga asing China, dan tidak dibolehkan berdiri tempat ibadah kecuali hanya Masjid ( sumber Rijksblad ).

Pada awalnya Setiap Jum’at Kliwon Sultan Khutbah di Masjid Gedhe, dan juga tidak dilarang ibadah Haji. Namun setelah adanya Java Oorlog (perang Jawa/ P. Dipanegara ), maka Belanda membuat peraturan ketat kepada Sultan Jogjakarta yang dinilai patriotik melawan Belanda dan membantu P. Dipanegara dari belakang. Pihak Belanda mencurigai bahwa semangat patriotik melawan Belanda itu ada pengaruh dari Ibadah Haji di Asia Barat, sehingga dilarang untuk melaksanakan Ibadah Haji bagi Sultan Jogjakarta. Selain itu Sultan juga dibatasi untuk sholat di Masjid Gedhe, tidak boleh Khurbah, dalam rangka memisahkan silaturahmi dan kharisma dengan rakyatnya. Terhadap karya tulis resmi kerajaan mendapatkan sensor ketat, sehingga mematikan kreativitas para pujangga kraton. Yang lebih membelenngu sultan ialah, untuk pemerintahan harian harus didelegasikan kepada Patih ( yang digaji dan mendapat pengaruh Belanda ).

Selain itu Belanda mulai memasukkan pengaruhnya ke dalam kraton, dengan melalui pendidikan, seperti Sekolah Taman ( Gurunya orang-orang Belanda ); Memasukkan para Suster Rumah sakit Belanda untuk merawak keluarga sultan. Pihak penguasa Belanda juga meminta tanah milik kraton di luar benteng untuk didirikan antara lain Rumah Sakit, Biara, Gereja, dan Sekolah-sekolah Nasrani di Jogjakarta. Pada waktu itu posisi sultan lemah, sehingga tidak dapat menolak. Oleh karena itu, pada era pemerintahan HB V sampai dengan HB VII, kegiatan ke –Islaman kraton agak kurang terang-terangan, sehingga banyak dimunculkan dengan simbol-simbol yang dibungkus dengan budaya Jawa.
ISLAM DALAM BUDAYA JOGJAKARTA

Ada dua kaidah dasar dalam kehidupan masyarakat Jawa, yaitu :
Pertama Prinsip RUKUN, yaitu untuk mewujudkan dan mempertahankan masyarakat dalam keadaan yang harmonis, yaitu tenang, selaras, tenang, dan tentram, bersatu saling membantu. Kedua Prinsip HORMAT, memainkan peran yang besar dalam mengatur pola interaksi sosial masyarakat Jawa.( baca: Cliford Geertz,The Religion of Java )

Selain dua kaidah dasar, masyarakat Jawa termasuk Jogjakarta memiliki beberapa nilai yang menjadi pegangan dalam kehidupannya, yaitu antara lain :
Nrimo : mensyukuri kepada apa yang telah diperoleh, dan jika terjadi sesuatu halangan setelah diusahakan, maka mereka nrimo atau pasrah kepada Allah, menyadari bahwa itu sudah menjadi kehendaknya ( “nrimo ing pandum”).
Dalam ajaran Islam sikap mensyukuri karunia dari Allah SWT. merupakan kewajiban bagi seorang hamba, dan Allah SWT. akan memberikan berkah karunia yang lebih banyak di masa mendatang.

Sabar : “sing sabar-subur”, artinya orang yang sabar itu akan mendapatkan kesejahteraan dan keselamatan. Dalam menyelasaikan masalah tidak boleh gegabah, dalam mengusahakan sesuatu tidak “ “nggege mangsa”, menurut prosedur yang benar, dilakukan dengan penuh kesabaran. Ajaran tentang sabar ini jelas berasal dari ajaran Islam.

Gotong Royong: adalah nilai kebersamaan yang saling peduli, saling bantu membantu dalam meringankan beban dalam kehidupan bermasyarakat. Gotong Royong ini juga terdapat dalam ajaran Islam yang menganjurkan untuk “ Bertolong-tolonglah kamu dalam perbuatan baik berdasarkan Taqwa “

Taqwa: dalam masyarakat Jawa, taqwa merupakan pakaian dalam kehidupan, yaitu diajarkan dekat dengan Allah SWT. dengan menta’ati perintah dan menjauhi laranganNya. Taqwa ini disimbolkan dengan Baju
Takwo.

Rembug Bareng : di dalam memutuskan sesuatu yang mengandung harkat, kepentingan orang banyak, maka selalu diadakan Rembug Bareng, sering juga disebut Rembug Desa. Hal ini mengingatkan kita pada ajaran Islam “ Musyawarah”, untuk memutuskan sesuatu sehingga akan mendapatkan wawasan dan keadilan.

Tepa-Slira : adalah memahami dan menghormati perasaan orang lain, dalam rangka menjaga persaudaraan, dan menjauhkan dari segala macam konflik. Dalam Ajaran Islam manusia diharapkan untuk Tafahum atau saling memahami dalam perbedaan, diharapkan akan dapat saling menjaga diri dari perpecahan.

Ojo Dumeh : dilarang berbuat kibir (takabur/Sombong), dan merendahkan orang lain. Larangan Takabur-Sombong ini dalam ajaran Islam jelas sangat ditekankan kepada umat.

Masih banyak beberapa sifat budaya Jogjakarta/Jawa yang memiliki nafas yang sama dengan ajaran Islam. Ajaran Islam yang sudah lama dikembangkan dalam masyarakat Jogjakarta, memiliki andil yang besar dalam mewarnai kehidupan berbudaya. Hanya dalam penampilannya banyak yang dibungkus dengan istilah Jawa.

BUDAYA SENI

Budaya berwujud Seni yang mendapatkan nafas Islam di Jogjakarta ini dapat dilihat antara lain pada : Seni Sastra, seperti Serat Muhammad, Serat Ambiya’, Serat Tajus Salatin, dan sebagainya. Seni Suara, seperti Macapat, Langen Swara, Slawatan, dan sebagainya. Seni Lukis, seperti kaligrafi di bangunan kraton dan masjid. Seni Musik, seperti Gamelan Sekaten. Seni Pedalangan, seperti dimunculkannya Wayang Sadat, Episode Dewa Ruci dan Jimat Kalimasada, serta tokoh Punokawan dalam pewayangan, san sebagainya.

Dalam seni pengaturan negera ( berpolitik ), pejabat negara mendapatkan status sebagai “ Pamong” sama dengan “Pangon” yang artinya penggembala. Makna yang terkandung di dalamnya ialah, pejabat negara adalah pelayan umat, yang melindungi, menngusahakan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Oleh karena itu, zaman dulu tidak menggunakan kata “ Pemerintah”, yang lebih berkonotasi “ Tukang Perintah “, kemudian berdampak justeri minta dilayani rakyat dengan perimntah-perintahnya. Sesungguhnya istilah Pamong lebih tepat, dan selaras dengan ajaran Islam, yaitu RO’IN, yang artinya penggembala atau yang mengelola.

Demikian sedikit tentang Usaha menemukan kembali Akar Budaya Jogjakarta dalam Perspektif Islam. Apa yang disampaikan ini masih sangat terbatas dan bagian kecil dari seluruh akar budaya Jogjakarta yang bernafaskan Islami. Kiranya perlu dikembangkan dengan penelitian lebih lanjut dikemudian hari. Alhamdulillaahi robbil’alamiin.

March 5, 2010 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: